Senin, 7 September 2009

Testing SI Chapter-3…
Proses testing yang biasa dilakukan oleh para tester-tester tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan SOP (Standard Operation Procedure) yang sudah ditetapkan. Testing juga ada gagalnya juga. Proses testing ini mengalami kegagalan karena tidak di support dari sisi manajemen.
Apa yang perlu disupport dan mengapa perlu disupport? Tester membutuhkan lingkungan yang kondusif agar proses testing bisa mencapai titik maksimal dan sukses, oleh karena itu bagaimana di sisi manajemen men-support tester untuk bisa memaksimalkan pekerjaannya. Testing bisa saja membosankan karena yang di test hanya itu-itu saja. Mereka membuka itu-itu saja, jadi bias saja tester merasa jenuh dengan apa yang mereka kerjakan. Berbeda dengan programmer yang selalu bertemu -dengan hal-hal yang baru.
Supportive Testing Environment
Testing membutuhkan lingkungan kerja yang kondusif agar proses testing bisa berjalan dengan maksimal oelh karena itu tester membutuhkan lingkungan kerja yang membantu untuk testing. Lingkungan kerja yang kondusif ini dibuat oleh bagian IT manajemen untuk membantu tester untuk melakukan proses testing lebih baik.
Management’s role:
- Membuat risk appetite —– Risk appetite…adalah jumlah resiko yang bisa diterima oleh pihak manajemen agar software atau produk yang dibuat bebas dari bugs (kesalahan). Jadi pihak manajemen juga harus mempersiapkan resiko terburuk dalam proses pembangunan suatu produk.
- Membuat definisi testing —– Bisa dibilang ini memberi definisi testing kepada para tester, agar mereka juga memahami paradigma testing di perusahaan, karena bisa jadi definisi dan prosedur standar proses testing di tiap perusahaan bisa berbeda, walaupun sedikit.
- Support to tester —– Memberikan support berupa fasilitas-fasilitas kepada tester, agar tester tidak merasa jenuh dengan pekerjaannya, misalnya pengadaan internet. Jadi sembari berisitirahat para tester bias browsing dan menjelajahi internet. Dari test yang diadakan salah satu dosen di perguruan tinggi di Australia, pekerja yang mengisi waktu istirahatnya dengan bermain internet atau bermain facebook, mempunyai produktifitas 9% lebih baik.
- Resource allocation for testing resource —– Memberikan resource-resource mengenai proses testing
- Processes and tools used —– Mempersiapkan dan menyediakan alat-alat yang digunakan tester untuk memperlancar proses kerjanya dan menjadi standar untuk semua tester yang lain.

Customer Dissatisfaction Gap:
- Spesification Gap —– Terjadi jika developer gagal membuat program atau program yang dibuat tidak lengkap atau juga gagal dalam proses pembangunan program
- Need Gap —– Program tidak sesuai dengan requirement. Program jadi, tapi tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna. Biasanya terjadi jika proses requirement gagal
Mengapa terjadi gap sampai sekarang? Why gap exist?
- Tight schedule —– Waktu lama diperhitungkan. Karena faktor waktu juga sangat mempengaruhi dalam proses pembangunan. Mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dan kualitas produk yang dihasilkan
- Limited budget —– jika budget yang disediakan minim, tidak perlu menambah tester
- Inadequet development and testing test —–Berkaitan dengan jumlah tester, waktu dan modul atau tugas yang harus diselesaikan
- Work processes that are prone to deffects —– Tidak ada panduan kerja atau tugas
Apa yang bisa dilakukan oleh tester:
- Menentukan apakah software sudah sesuai dengan spesifikasi (spesification gap)
- Menentukan apakah software sudah sesuai dengan kebutuhan user (need gap)
- Menjalankan keduanya. Manajemen harus membuat lingkungan tester dan user
Kesalahan dan kegagalan saat mendesain software bias dikarenakan pembuaatn keputusan tidak komplit dan software tidak sesuai dengan user (implementasinya).
Resiko dengan spek implementasi:
- data problem —– ada masalah dengan data yang sedang akan diproses
- incomplete data —– ada data yang kurang atau tidak komplit yang bias menyebabkan software tidak berjalan dengan mulus
- incorrect data —– data yang salah, yang bias menyebabkan output yang dihasilkan dan proses juga salah
- data expired —– data yang digunakan atau yang diolah adalah data yang sudah lama, sehingga walaupun bisa digunakan tapi sia-sia karena tidak terpakai dan kadaluarsa
Resiko yang muncul berhubungan dari kebutuhan user atau client kita, karena saat proses pembangunan dan design produk terlebih dahulu kita berkomunikasi dengan klien kita untuk masalah requirement yang ditetapkan oleh klien. Namun, tidak semua klien bisa memberikan requirement yang terbaik atas produk yang mereka inginkan. Inilah yang bisa mempengaruhi resiko-resiko yang muncul.
Kita bisa menimplementasikan spesifikasi tapi tidak berarti kita bisa memenuhi kebutuhan user. Bisa jadi ketika user membuat spesifikasi tapi tidak tahu apa fungsinya. Saat membuat spesifikasi, user bisa jadi tidak mengerti. Jadi, kita harus bisa menemukan kesalahan-kesalahan plus memberi solusinya.
Untuk lebih detail bisa diliat di file yang diupload di site pak Willy…